‘Aisyah Ar-ridlo

Suatu saat pada tahun keempat hijriah, Rasulullah saw. beserta para sahabatnya -berdasarkan riwayat imam Muslim- melakukan perjalanan pulang ke madinah dari ghozwah al-muraisi’. Di dalamnya, ikut serta pula istri Rasul saw. yang secara tidak sengaja menghilangkan kalung yang di pinjamnya dari saudari perempuannya Asma’ binti Abu bakar radliyallahu ‘anhuma ketika rombongan sedang beristirahat di suatu tempat yang bernama al-baida’.

Mengetahui hal itu, maka Rasul pun mencarinya dan diikuti oleh para sahabat secara serempak tanpa menunggu komando dari beliau sehingga beliau pun ketiduran di pangkuan istrinya tersebut sampai fajar menyingsing. kemudian rasul dan para sahabat pun bersiap-siap untuk mendirikan salat, tapi mereka ketika itu tidak membawa bekal air dan secara kebetulan tempat itu merupakan area yang gersang dan setelah berusaha mencari, mereka tidak menemukan air disana. Maka rasul dan rombongan tidak bisa melaksanakan salat keadaan tersebut hingga datanglah salah satu sahabat kepada ayahnya untuk mengadukan kejadian tersebut. Mendengar keadaan tersebut, ayahnya pun memarahinya hingga Rasul -yang waktu itu berada di pangkuannya- terbangun dan menyampaikan wahyu yang bermaterikan solusi dari hal itu. Rasul saw menyampaikan ayat tentang di perbolehkannya tayammum bagi orang yang tidak mendapatkan air untuk berwudlu setelah mencarinya. [Q.S.al-maidah :6]

Setelah kejadian itu, sahabat Usaid bin hudair radliyallahu ‘anhu berkata kepadanya: “semoga Allah swt. membalasmu dengan kebaikan. Demi allah, Sesungguhnya tidak ada satu masalah pun yang menimpamu kecuali Allah memberi jalan keluar bagimu dan menjadikannya sebagai suatu barakah bagi kaum muslimin”.

Sosok wanita dalam penggalan hadis di atas adalah sayyidatuna ‘Aisyah al-kubro yang merupakan sosok ummul mu’minin -sesudah sayyidah Hadijah ra.- yang paling beruntung karena mendapatkan keridloan Rasulullah saw. yang paling besar apabila dibanding dengan istri-istri beliau yang lainnya.

Hal itu terbukti ketika rasul saw. mengalami sakit yang mengantarkan beliau menghadap ke hadirat Allah swt. Rasul di kala itu selalu bertanya-tanya : “dimanakah giliranku besok pagi?, di rumah siapa aku besok lusa?”, Sehingga istri beliau yang lain memahami apa yang dialami suaminya dan menghadiahkan jatah mereka kepada ‘Aisyah ra. kata-kata di atas tidak akan pernah terucap dari mulut beliau seandainya beliau tidak mempunyai rasa sayang yang tinggi terhadap ‘Aisyah ra, karena rindu adalah salah satu bukti perasaan cinta serta sayang dan hanya pertemuan dengan pujaan hati saja -sebagimana kalam Habib Ali bin Muhammad al-habsyi- yang mampu menjadi obat bagi perasaan tersebut.

Selain itu, di antara istri-istri beliau hanya kepada sayyidah ‘Aisyahlah Rasul memanggil dengan laqob [nama kesayangan] yaitu humairo’ [yang pipinya kemerah-merahan].

Menurut riwayat imam Bukhori dan imam Muslim, ‘Aisyah ra dikahi Rasulullah saw setelah Nabi melihat malaikat membawa selembar kain sutra bergambar ‘Aisyah ra. sambil berkata: “inilah istri anda”. Beliaupun menjawab: ”jika itu kehendak Allah swt,baiklah.”

Kecintaan ekstra dari Rasul saw. tersebut bukanlah sebuah fenomena yang mengherankan, karena disamping ia adalah satu-satunya istri yang dinikahi dalam keadaan masih gadis dan merupakan wanita pertama yang dinikahi setelah wafatnya Hadijah ra., putri dari sahabat karib Rasul itu juga merupakan istri -sesudah Hadijah ra- yang memiliki kecintaan paling mendalam kepada Rasul. Hal itu dapat dilihat dalam berbagai riwayat yang menginformasikan kepada kita bahwa ‘Aisyah ra. adalah ummul mu’minin yang memiliki intensitas [tingkat] kecemburuan yang tinggi. Padahal kecemburuan -menurut para psikolog- adalah sebuah reaksi psikologi [gejala kejiwaan] yang mengindikasikan [menunjukkan] kualitas kecintan seseorang terhadap sosok yang di cemburui tersebut.

Figur yang dinikahi Rasul saw. dalam usia yang sangat belia itu [tujuh tahun] bukanlah wanita yang hanya mempunyai biografi yang datar-datar saja, namun Ia adalah sosok yang memiliki banyak andil dalam mamberi corak terhadap sejarah islam, baik dari aspek hukum maupun politik. Peperangan jamal, hadis al-ifk maupun ayat tayamum yang kami sampaikan di atas merupakan beberapa bukti yang cukup jelas bagi sepak terjang Ummu Abdillah itu.

Disamping contoh diatas, keremajaan usia ‘Aiyah ra. ketika di persunting oleh Rasul saw. menjadi faktor cukup dominan dalam menjadikan Ia sebagai salah satu tokoh perempuan yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh sejarah islam maupun dunia. Ketika itu ‘Aisyah ra. sedang berada pada masa pubertas yang -sebagaimana kebanyakan remaja- memiliki pikiran yang tajam dan memori yang kuat. Sehingga keadaan itu sangat mendukungnya dalam merekam hadis-hadis Nabi dan menyampaikannya kepada umat selepas meninggalnya Rasul saw.

Faktor di atas pulalah yang memasukkan beliau dalam jajaran periwayat hadis terbanyak dijajaran sahabat. Hal tersebut di tegaskan sendiri oleh suami beliau dalam sebagaian hadisnya yang berbunyi: “ambillah separuh [ajaran] agamamu melalui al-humairo’[‘Aisyah ra.]”.

Selain meriwayatkan hadis yang berjumlah tidak kurang dari 2.210 buah, pengetahuannya tentang agama islam cukup banyak. Imam Azzuhri -dalam kitab tarikh at-tabari- menegaskan: ”pengetahuan ‘Aisyah ra. Mengenai agama jika di banding dengan semua pengetahuan yang ada pada istri-istri Nabi lainnya, atau jika dibanding dengan pengetahuan agama yang ada pada semua wanita [masa itu], maka pengetahuan yang ada pada ‘Aisyah ra. tentu lebih banyak”. Dalam riwayat yang lain, sahabat ‘Urwah bin Zubair radliyallahu ‘anhu berujar: “saya belum pernah melihat seorang yang lebih tahu soal-soal sejarah, hukum Dan ketabiban melebihi’Aisyah ra”.

‘Aisyah binti Abu bakar radliyallahu anhuma wafat dalam usia 66 tahun pada malam rabu tanggal 17 ramadhan tahun 50 hijriah. Abu hurairah ra. turut serta dalam salat janazahnya di masjid Nabawi Madinah dan ikut pula mengantarnya ke area pemakaman Baqi’ di malam hari sesuai dengan wasiat ummul mu’minin sendiri sebelum wafatnya. Di pekuburan yang gelap gulita itu, para pengantar menyalakan api penerangan dengan membakar pelepah-pelepah kurma yang telah di celupkan di minyak [lemak]. Ia di semayamkan di tempat yang sama dengan para ummul mu’minin yang sudah wafat terlebih dahulu selain Hadijah ra. Meskipun Ia telah meninggal dunia, namun namanya tidak henti-hentinya disebut oleh para pengkaji dan periwayat hadis-hadis nabawi dan buku-buku sejarah pun masih terus melukiskan riwayat kehidupannya sejak remaja hingga meninggal dunia. Semoga Allah selalu merahmatinya, amin.

Source : pesantren.or.id
Shared By Catatan Catatan Islami

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: