Kedustaan VS Kejujuran

Saudaraku yang mulia, hati-hatilah agar jangan sampai kita ditetapkan oleh Allah Swt sebagai pendusta,

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [QS. Al-Ahzab : 70 – 71]

Aisyah ra. Berkata, “Perilaku yang paling dibenci oleh Rasulullah SAW. Adalah berdusta. Apabila terbersit di dalam hati seseorang untuk berdusta hingga keluar dari hatinya sampai diketahui orang bahwa ia telah berdusta, maka hendaklah ia bertobat.” (HR. Imam Ahmad)

Dari Anas, dari Nabi SAW, beliau bersabda tentang dosa-dosa besar, “Menyekutukan Allah dengan sesuatu, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh orang dan berkata dusta”. [HR. Muslim juz 1, hal. 91]

Tidakkah engkau menyadari wahai saudaraku mengapa berdusta merupakan kejahatan yang paling dibenci oleh Rasulullah?
Karena berdusta adalah salah satu ciri orang munafik, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah SAW. Dalam sabdanya yang lain,

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash RA, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Ada empat perkara barangsiapa yang empat perkara itu ada padanya maka ia adalah orang munafiq yang sebenarnya. Dan barangsiapa ada padanya satu bagian dari yang empat perkata itu berarti ada padanya satu bagian dari kemunafiqan sehingga ia meninggalkannya, yaitu : 1. Apabila diberi amanat ia khianat, 2. Apabila berbicara ia berdusta, 3. Apabila berjanji menyelisihi dan 4. Apabila bertengkar ia curang”. [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai, dalam Taghib wat Tarhib juz 3, hal. 593]

Orang-orang munafik –semoga Allah melindungi kita darinya- tempatnya adalah dasar neraka, yaitu kedudukan yang paling hina, bentuk yang paling buruk, dan siksa yang amat pedih.

Allah SWT. Berfirman, “sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka.” (An-Nisa 4:145)

Sebagaimaa halnya minuman keras adalah pangkal kekejian, maka sesungguhnya berdusta adalah pangkal kerusakan dan kesesatan. Barang siapa terbiasa dan membiasakan sejak kecil, maka ia akan terperosok ke dalam semua bentuk kehinaan dan ia akan menganggap mudah segala perbuatan dosa.

Dan setiap perbuatan hina lawannya adalah akhlak yang mulia, seperti berkhianat lawan dapat dipercaya, penakut lawan dari pemberani, kikir lawan dari dermawan, dan seterusnya. Dan saya yakin, anda mengetahui lawan dari berdusta adalah jujur.

Selama seseorang berniat untuk jujur, maka Allah telah menetapkan dia sebagai hamba yang jujur.

Terkadang kita dihadapkan pada situasi yang sulit dan susah, maka salah seorang di antara kita menganggap bahwa berdusta sebagai jalan keluar kesulitannya. Dengan demikian ia menganggap bahwa dusta adalah suatu hal yang mudah, lalu ia pun menyepelekannya. Ia tidak mengetahui bahwa sesungguhya ia telah mengganti sebuah perbaikan kesalahan dengan kesalahan lain. Berarti ia telah memasuki perangkap kesalahan yang tiada putusnya. Ia akan terperosok dalam kejahatan dan dosa-dosa selamanya yang akan membawa dan menghanyutkannya ke lembah kenistaan yang paling dalam.

Bertobat dari perbuatan dosa adalah suatu hal yang dapat menjadikan seseorang meraih keridhaan Allah Swt dan Nabi-Nya. Dan itu juga merupakan cara menghapuskan dosa pada diri seseorang dan menghilangkan kehinaannya.

Adapun berdusta yang dibolehkan adalah berdusta untuk suatu kebenaran yang mendatangkan bahaya, tetapi sebaliknya mendatangkan kebaikan.

Ummu Kultsum berkata:
”Aku tidak pernah mendengar Rasulullah Saw memberikan keringanan pada perkataan manusia kecuali dalam tiga perkara, yaitu pada saat perang, pada saat mendamaikan permusuhan di antara manusia dan dalam perkataan suami terhadap istrinya, serta perkataan istri terhadap suaminya”.

Mengapa dalam peperangan diperbolehkan berdusta?. Sebab perang adalah tipu daya. Rasulullah SAW bersabda: ”Perang adalah tipu daya” (HR. Mutafaq ’alaih)

Telah diriwayatkan oleh Asma’ binti Yazid, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah Saw berpidato. Rasulullah SAW bersabda:
”Wahai manusia, apa yang mendorong kalian terus menerus dalam dusta, seperti halnya laron yang berputar mengitari api. Setiap dusta pasti akan dicatat atas anak Adam, kecuali dalam tiga perkara, yaitu suami yang berdusta kepada istrinya agar menyukainya; seorang yang berdusta untuk melakukan tipudaya dalam peperangan; dan seorang yang berdusta antara dua orang muslim karena ingin mendamaikan keduanya.” (HR. Ahmad)

Para ahli ulama dan fiqih membolehkan dusta dalam hal-hal berikut ini: seseorang ingin mendamaikan dua orang yang bertengkar, dalam politik peperangan untuk melawan musuh, atau memperbaiki keadaan antara suami-istri yang sedang bertengkar.

Saudaraku yang mulia, hati-hatilah agar jangan sampai kita ditetapkan oleh Allah Swt sebagai pendusta. Takutlah kepada-Nya dan jadilah kita bersama orang-orang yang benar serta bertobatlah kepada-Nya, sesungguhnya Dia mencintai orang-orang yang bertobat, mantan pendusta kemudian menjadi si jujur.

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya, dalam Targhib wat Tarhib juz 3, hal. 591]

SEBARKAN ke teman anda jika menurut anda catatan ini bermanfaat….

Referensi :
50 Nasihat Rasulullah untuk Generasi Muda. Bandung: Al-Bayan.

Oleh : Pipit Homepi
Author : PercikanIman.org
Shared By Catatan Catatan Islami Pages

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: