Rijaluna

Rasulullah berkata: “Para Malaikat itu sedang mendengarkan bacaanmu wahai Usaid, andaikan kamu melanjutkan bacaanmu pasti manusia akan melihat para malaikat yang sebelumnya terhalang pandangan mereka dari para Malaikat”

Pada permulaan perkembangan Islam Rasulullah mengutus para sahabatnya untuk menyebarkan agama Islam supaya agama yang mulia dapat dikenal dan diterima oleh segala pihak di kalangan masyarakat.
Diantara yang mendapat mandat tugas dari Rasulullah yaitu Mus’ab bin Umair. Beliau diperintah Nabi SAW untuk menyebarkan agama Islam dan memberi kabar gembira kepada siapa saja yang masuk Islam. Daerah tempat Mus’ab bin Umair menjalankan tugasnya di kota Yatsrib ( Madinah Munawwaroh).

Setiba di Yatsrib, Mus’ab bin Umair langsung menuju rumah As’ad bin Zurarah salah satu pembesar kaum Khazraj dan tinggal disana. Maka mulai beliau berdakwah menyerukan ke jalan yang terang benderang di bawah bendera Tauhid. Salah satu metode da’wah yang digunakan Mus’ab dengan mengumpulkan para pemuda Yatsrib untuk mendengarkan nasehat-nasehatnya, memang tidak salah lagi Mus’ab bin Umair terkenal dengan keindahan susunan kata-katanya, mahir dalam mengutarakan pendapat, sosok pemuda berakhlaq terpuji dan tercermin dalam wajahnya cahaya-cahaya keimanan. Pada saat itulah para pemuda Yatsrib berbondong-bondong untuk mendengarkan nasehat dan ajakan Mus’ab bin Umair.

Dan di setiap perkumpulan tidak lupa dalam benak Mus’ab untuk melantunkan ayat suci Al-quran dengan suara yang sangat indah nan manis yang dapat melunakkan hati-hati yang keras dan mengalirkan air mata para pendengar. Tidak sedikit para kaum Yatsrib masuk agama Islam setelah mendengar bacaan Qur’an Mus’ab bin Umair.

Pada suatu hari Mus’ab bin Umair keluar untuk berdakwah ditemani As’ad bin Zurarah menuju bani Abdi Asyhal. Masuklah keduanya ke sebuah kebun bani Abdi Ayshal dan keduanya pun duduk di bawah naungan pohon kurma. Tidak selang lama para manusia telah memenuhi lataran kebun untuk mendengarkan nasehat Mus’ab, bahkan banyak dari mereka masuk Islam seketika itu. Kabar tersebut tersebar dari telinga ke telinga dan sampailah berita itu ke telinga Usaid bin Hudhair dan Sa’ad bin Mu’adz kedua pemimpin bani Aus yang saat itu belum masuk Islam.

Berkata Sa’adz bin Mu’adz kepada temannya Usaid bin Hudhair:”Bagaimana pendapatmu wahai Usaid, pergilah ke pemuda itu yang tiba-tiba datang ke daerah kita untuk mengelabui para kaum-kaum lemah dari kita dan menghina para tuhan kita, cegahlah dia dan ancamlah supaya pergi dari kota kita hari ini juga sekalipun dia dalam perlindungan As’ad bin Zurarah”

Berangkatlah Usaid disertai para pasukan perang menuju kebun dimana Mus’ab berdakwah. Tatkala As’ad bin Zurarah melihat rombongan Usaid mendekati jama’ah Mus’ab, berkatalah As’ad kepada Mus’ab:”Celaka Wahai Mus’ab, ini adalah pimpinan kaum kami, orangnya sangat cerdas dan cerdik, namanya Usaid bin Hudhair. Tetapi jika dia masuk Islam pasti akan banyak sekali orang-orang yang masuk Islam dikarenakannya, maka hendaklah kamu bersikap baik kepadanya”. Maka berhentilah Usaid diantara para jama’ah dan menoleh kepada Mus’ab dan sahabatnya seraya berkata”Atas dasar apa kamu datang ke kota kami dan mengelabui para kaum lemah kami, pergilah! Sebelum aku bertindak. Dengan tegap Mus’ab  menoleh dengan wajah yang dipenuhi cahaya-cahaya keimanan, dan berkatalah Mus’ab dengan gramatika bahasa yang mengesankan”Wahai pemimpin kaum, Apakah kamu menginginkan kebaikan?”, seraya menjawab Usaid”Apakah itu?”. Mus’ab balas menjawab”Duduklah bersama kami dan dengarkan apa yang kami sampaikan, jika kamu senang apa yang aku sampaikan maka terimalah, jika tidak aku akan pergi dari kalian dan aku tidak akan kembali lagi”, Usaid Berkata”Kalau memang begitu baiklah”. Maka Usaid meletakkan busur panahnya dan duduk di depan Mus’ab. Mulailah Mus’ab menyebut kebenaran-kebenaran Islam dan membaca sebagian dari ayat-ayat Al-quran, tatkala Mus’ab melantunkan ayat-ayat suci Al-quran maka berdirilah bulu kuduk Usaid, terpancar dalam wajahnya nada kegembiraan seraya berkata ”Alangkah Indahnya apa yang kamu baca tadi!, bagaimana caranya jika aku masuk Islam?”. Secara spontan Mus’ab menjawab ” Mandilah dan bersihkan bajumu, kemudian bacalah Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Aku bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad utusan Allah kemudian shalatlah dua raka’at!”. Maka Mus’ab pun berdiri, berjalan menuju sumur dan bersuci dengan air sumur itu dan mengucapkan kalimat Syahadat dan diteruskan dengan shalat dua raka’at.

Sempurnalah Islam di Madinah dengan Islamnya Usaid, tidak lama kemudian Sa’ad bin Muadz pun menyusul ikut masuk Islam dikarenakannya. Dengan Islamnya kedua pemimpin tersebut menjadi sebab gencar-gencarnya para kaum Aus masuk Islam bagai air hujan yang turun dengan derasnya. Yang mana setelah itu kota Madinah menjadi tempat hijrahnya Nabi SAW dan kota sentral dalam mengatur pemerintahan, juga tempat kekuatan untuk mendirikan dan menyebarkan Islam.

Sejak pertama kali mendengar Al-quran dari Mus’ab, Usaid menjadikan hobinya untuk membaca Al-quran. Bahkan hari-harinya tidak lepas dari bacaan Quran setiap detakan jantung, dan Usaid pun terkenal dengan kegigihannya dalam medan perang. Usaid mempunyai suara yang dapat membuat jantung lepas jika orang mendengarkan suaranya. Bahkan para sahabat Nabi SAW berdesak-desakkan ketika Usaid membaca Al-quran. Dia lebih memperindah bacaannya ketika tengah malam tiba, ketika mata manusia lelap dalam angannya.

Pada suatu tengah malam Usaid duduk di tempat ibadahnya sedangkan anaknya duduk disampingnya dan kudanya yang akan disiapkan untuk jihad terikat tidak jauh darinya. Saat itu keadaan malam tenang nan sejuk, bintang-bintang seakan-akan akan jatuh ke bumi, maka timbullah keinginan Usaid untuk menghiasi keadaan yang sejuk ini dengan wangi-wangian Quran. Mulailah Usaid membaca permulaan surah Al-Baqarah dengan suara yang merdu dan indah. Tiba-tiba kudanya berputar-putar bergerak dengan kerasnya sampai-sampai tali untuk mengikatnya hampir lepas, kemudian Usaid menghentikan bacaannya seketika itu kudanya pun ikut diam dan tenang, kemudian Usaid mengulangi bacaannya dan bergeraklah sangat keras kudanya kali kedua bahkan lebih dari yang awal, maka Usaid menghentikan dari bacaanya dan seketika itu kudanya pun ikut tenang. Maka Usaid mengulangi perbuatan tersebut berulang-ulang. Maka Usaid kasihan akan anaknya jika terbangun dari tidurnya lalu dia berjalan menuju kudanya. Tatkala berjalan, Usaid melihat ke langit dan melihat awan berjejer dilangit, seperti payung yang sangat besar. Dan disampingnya terlihat seperti susunan cahaya yang menerangi seluruh permukaan langit, sampai-sampai Usaid naik ke tangga rumah untuk melihat yang hal menakjubkan ini hingga hilang dari pandangannya. Tidak pernah dilihat kejadian yang aneh ini oleh mata manusia sama sekali. Ketika waktu pagi tiba, bersegeralah Usaid menuju Rasulullah dan menceritakan apa yang terjadi pada dirinya semalam. Maka Rasulullah berkata kepada Usaid” Para Malaikat itu sedang mendengarkan bacaanmu wahai Usaid, andaikan kamu melanjutkan bacaanmu pasti manusia akan melihat para malaikat yang sebelumnya terhalang pandangan mereka dari para Malaikat”

Usaid mempunyai kenginan yang kuat sekali agar tubuhnya dapat bersentuhan langsung dengan tubuh Nabi SAW, dan hal itu terbukti tatkala Rasulullah meluruskan sahabatnya dalam medan perang, pada salah satu safnya ada yang tidak rata, maka Rasulullah meluruskannya dengan tongkatnya. Dan salah satu sahabat yang terkena tongkat Rasulullah adalah Usaid. Pada suatu kesempatan Usaid berkata kepada Rasulullah ”Engkau telah melukai aku”, Rasulullah menjawab ”Balaslah aku wahai Usaid”, Usaid menjawab ”Sekarang engkau memakai Qamis(baju) dan pada waktu itu aku tanpa memakai baju”. Maka Rasululah melepas Qamisnya, tiba-tiba Usaid merangkul Rasulullah dan mencium diantara ketiak dan perut Rasulullah seraya berkata”Demi ayah dan ibuku wahai Rasulullah, ini adalah kesempatan yang aku inginkan sejak aku mengenalmu, dan sekarang telah terkabul keinginanku”. Dan Rasulullah membalas cintanya sahabat Usaid, bahkan diceritakan pada waktu perang Uhud Rasulullah terkena tujuh luka di diri Rasulullah demi menjaga sahabat Usaid. Alangkah indahnya kehidupan pada saat itu.

Usaid meninggal di masa khilafah Umar bin Khattab, dan telah didapati padanya hutang sebesar empat ribu dirham. Para keluarga Usaid pun sepakat untuk menjual tanah miliknya untuk melunasi hutangnya tersebut. Tatkala Umar mengetahui hal itu maka Umar berkata”Tidak aku tinggalkan untuk saudaraku Usaid sebuah tanggungan kepada manusia”, seketika itu Umar pun mengumpulkan para orang-yang pernah dihutangi Usaid untuk musyawarah, yang akhirnya mereka rela dan ridha untuk membeli hasil dari tanah Usaid selama empat tahun dan setiap tahunnya seribu dirham.

Itulah sosok sahabat Usaid yang patut kita meniru kepribadian dan kesehariannya beliau, dimana waktu-waktu beliau dipenuhi dengan beribadah, berjuang dan lebih-lebih mulutnya yang basah dengan wangi-wangian Al-quran. Semoga Allah membalas jasa-jasa beliau dunia dan akhirat. Amin

Source : pesantren.or.id
Shared By Catatan Catatan Islami Pages

Satu Tanggapan

  1. I love Nabi Muhammad SAW
    kunjungi balik novaibnu.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: