Hak Kedua Ibu Bapak

Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Abbas r.a. berkata: “Tiada seorang mukmin mempunyai kedua ibu bapak lalu ia pagi-pagi ia taat dan baik pada keduanya melainkan Allah s.w.t. membukakan untuknya daun pintu syurga, dan tidak mungkin Allah s.w.t. ridho padanya jika salah satu ibu atau bapanya murka kepadanya sehingga mendapat ridho dari keduanya. Ditanya: Meskipun orang tua itu zalim? Jawabnya: Meskipun zalim. Dan di dalam hadis marfu’ ada tambahan: Dan tiada pagi-pagi ia durhaka (menyakiti hati) orang tuanya melainkan Allah s.w.t. membukakan baginya dua pintu neraka dan jika hanya satu maka satu.”

Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Atha’ berkata: “Nabi Musa a.s. berdoa: “Ya Tuhan, pesanlah kepadaku.” Firman Allah s.w.t.: “Aku wasiat supaya tetap dengan Aku.” Nabi Musa a.s. berkata lagi: “Ya Tuhan, pesanlah kepadaku.” Firman Allah s.w.t.: “Aku pesan kepadamu, taatlah kepada ibumu.” Kemudian berkata Nabi Musa a.s. lagi: “Ya Tuhan, pesanlah kepadaku.” Jawab Allah s.w.t.: Aku pesan supaya taat kepada ibumu.” Musa a.s. berkata: “Wasiat kepadaku.” Allah s.w.t. berfirman: Aku wasiat kepadamu, taatlah kepada ayahmu.”

Abdullah bin Umar r.a. berkata: “Seorang datang kepada Nabi Muhammad s.a.w dan berkata: “Saya ingin berjihad (perang fisabilillah).” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Apakah kedua ibu bapamu masih hidup?” Jawabnya: “Ya, kedua-duanya.” Sabda Rasulullah s.a.w.: “Di dalam melayani keduanya harus berjihad.”

Hadis ini menunjukkan bahawa taat bakti kepada orang tua itu lebih besar daripada jihad fisabilillah, sebab menyuruh orang itu berbakti kepada orang tua dan berjihad. Karena itu maka seseorang tidak boleh keluar untuk jihad jika tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya selama panggilan jihad itu tidak umum, maka tetap taat kepada orang tua lebih afdhal dari jihad fisabilillah.

Bahz bin Hakim dari ayahnya dari neneknya berkata: “Saya tanya kepada Rasulullah s.a.w.: “Ya Rasulullah, siapakah harus saya taat?” Jawab Rasulullah s.a.w.: “Ibumu.” Kemudian siapakah? tanya saya lagi. Jawab Rasulullah s.a.w.: “Ibumu.” Saya bertanya sekali lagi dan Rasulullah s.a.w. menjawab: “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya saya lagi.” Rasulullah s.a.w. menjawab: “Ayahmu, kemudian yang terdekat dan yang dari kerabat.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Ali dari ayahnya dari neneknya berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: “Andaikan ada khalimah yang lebih ringan dari kata UF (cih) untuk dijadikan dasar serendah-rendahnya durhaka pada orang tua nescaya akan dilarang oleh Allah s.w.t. untuk mengatakannya, karena itu seorang yang durhaka pada orang tuanya boleh berbuat apa yang diperbuat maka ia tidak akan masuk syurga, sebaliknya seorang yang bakti pada orang tuanya boleh berbuat apa saja maka tidak akan masuk neraka.”

Abul-Laits berkata: “Andaikan Allah s.w.t. tidak menyebut kewajiban berbakti kepada kedua orang tua itu dalam al-quran, dan tidak ditekankan niscaya dapat dimengertikan oleh akal bahwa taat kepada kedua orang tua itu wajib, kerana itu diwajibkan seorang yang berakal harus mengerti kewajibannya terhadap kedua orang tuanya, lebih-lebih Allah s.w.t. telah menekan dalam semua kitab yang diturunkan yaitu Taurat, Injil, Zabur dan Al-Quran, juga telah diwahyukan kepada semua Nabi, Rasul bahwa ridho Allah s.w.t. tergantung pada ridho kedua orang tua dan murka Allah s.w.t. tergantung pada murka kedua ayah bunda.”

Ada penjelasan bahwa tiga ayat turun bergandengan dan Allah s.w.t. tidak menerima yang satu tanpa gandingannya yaitu seperti firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi):

* Aqimusholata wa atuszakat (Yang bermaksud) Tegakkan sembahyang dan keluarkan zakat, maka siapa solat tanpa zakat tidak akan diterima oleh Allah s.w.t.
* Athi’u Allaha waathi’urRasul (Yang bermaksud) Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasulullah, maka tidak akan diterima taat kepada Allah s.w.t. jika tidak taat kepada Rasulullah s.a.w.
* An usykur li walidaika (Yang bermaksud) Syukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapamu, maka siapa yang syukur kepada Allah s.w.t. dan tidak syukur kepada kedua orang tua tidak diterima.

Dan dalilnya ialah Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya kutukan kedua orang tua itu memutuskan asal anak itu jika anak itu durhakai keduanya. Maka siapa merelakan kedua ayah bundanya berarti telah merelakan Tuhannya dan siapa mendapatkan kedua ayah bundanya atau salah satunya, lalu tidak taat kepada keduanya sehingga masuk neraka berarti telah dijauhkan oleh Allah s.w.t.”

Dan ketika Rasulullah s.a.w. ditanya: “Apakah amal yang utama?” Jawab Rasulullah s.a.w.: “Sembahyang pada waktunya, kemudian taat kepada kedua ibu bapa kemudian jihad fisabilillah.”

Farqad Assinji berkata saya telah membaca di dalam kitab: “Bahwa anak tidak boleh dibicarakan di muka orang tuanya kecuali dengan izinnya dan tidak boleh jalan di mukanya atau di kanan kirinya kecuali jika dipanggil maka ia harus menyambut dan harus berjalan di belakang keduanya sebagaimana hamba sahaya dibelakang majikannya.”

Seorang datang kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata: “Ya Rasulullah, ibuku kini mengigau di tempatku, maka sayalah yang memberi makan minum dengan tanganku juga mewudhu’kannya, dan mengangkat di atas bahuku, apakah yang demikian itu berarti aku telah membalas jasanya?” Jawab Rasulullah s.a.w.: “Belum, belum satu pun dari jasa-jasanya (satu persen) tetapi engkau telah berbuat baik dan Allah s.w.t. akan memberi pahala kepadamu yang besar dan banyak terhadap amalanmu yang sedikit.”

Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari neneknya berkata: “Tertulis di dalam hikmat: “Terkutuk orang yang mengutuk ayahnya, terkutuk orang yang mengutuk ibunya, mal’un (terkutuk) siapa yang merintangi agama Allah s.w.t., terkutuk siapa yang menyesatkan orang buta dari jalanan, terkutuk siapa yang menyembelih menyebut nama selain nama Allah s.w.t., terkutuk siapa yang merusak tanda-tanda di jalan bumi ini atau batas-batas tanah.”

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya sebesar-besar dosa ialah memaki ayah ibunya.” Ketika ditanya: “Bagaimanakah seorang memaki ayah ibunya?” Jawab Rasulullah s.a.w.: “Memaki ayah orang lain lalu dibalas maki ayahnya atau memaki ibunya, maka dibalas dimaki ibunya.”

Abban dari Anas r.a. berkata: “Ada seorang pemuda bernama Alqomah dimasa Rasulullah s.a.w. Pemuda ini rajin ibadat dan banyak sedekah, tiba-tiba ia sakit dan sangat berat sakitnya, maka isterinya menyuruh orang memanggil Rasulullah s.a.w. dan menyatakan bahawa suaminya sakit keras di dalam keadaan nazak sakaratal maut dan saya ingin menerangkan kepadamu keadaannya. Maka Rasulullah s.a.w. menyuruh Bilal, Ali, Salman dan Ammar r.a. supaya pergi ke tempat Alqomah dan memperhatikan bagaimana keadaannya dan ketika telah sampai ke rumah Alqomah mereka langsung masuk kepada Alqomah dan menuntunnya supaya membaca: Laa ilaha illallah, tetapi lidah Alqomah bagaikan terkunci, tidak dapat mengucap dua kalimah syahadah itu, ketika para sahabat itu merasa bahwa Alqomah pasti akan mati, mereka menyuruh Bilal supaya pergi memberitahu hal itu kepada Rasulullah s.a.w.

Rasulullah s.a.w. langsung bertanya: “Apakah ia masih mempunyai ibu dan ayah?” Jawabnya: “Ayahnya telah meninggal, sedang ibunya masih hidup tetapi terlalu tua.” Rasulullah s.a.w. bersabda kepada Bilal: “Ya Bilal, pergilah kepada ibu Alqomah dan sampaikan kepadanya salamku, dan katakan kepadanya: JIka kau dapat berjalan pergi kepada Rasulullah s.a.w., dan jika tidak dapat maka Rasulullah s.a.w. akan datang kesini.” Jawab ibu Alqomah: “Sayalah yang lebih layak pergi kepada Rasulullah s.a.w. Lalu ia mengambil tongkat dan berjalan hingga masuk ke rumah Rasulullah s.a.w. dan sesudah memberi salam ia duduk di depan Rasulullah s.a.w. Maka Rasulullah s.a.w. bertanya: “Beritakan yang benar-benar kepadaku, jika kau dusta kepada ku niscaya akan turun wahyu memberitahu kepadaku, bagaimanakah keadaan Alqomah?” Jawab ibu Alqomah: “Alqomah rajin ibadat sembahyang, puasa dan sedekah sebanyak-banyaknya sehingga tidak diketahui berapa banyaknya.” Rasulullah s.a.w. bertanya lagi: “Lalu bagaimana hubunganmu dengan dia?” Jawab ibu Alqomah: “Saya murka kepadanya.” Rasulullah s.a.w. bertanya: “Mengapa?” Jawab ibu Alqomah: “Kerana ia mengutamakan isterinya lebih daripadaku dan menurut isterinya kepadaku dan menentangku.”

Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: “”Murka ibunya, itulah yang mengunci (menutup) lidahnya untuk mengucap dua kalimah syahadah.” Kemudian Rasulullah s.a.w. menyuruh Bilal supaya mengumpul kayu sebanyak-banyaknya untuk membakar Alqomah dengan api itu. Ibu Alqomah bertanya: “Ya Rasulullah s.a.w., puteraku, buah hatiku akan kau bakar dengan api di depanku? bagaimana akan dapat menerima hatiku?” Rasulullah s.a.w. bersabda: ” “Hai ibu Alqomah, siksaan Allah s.w.t. lebih berat dan kekal, kerana itu jika kau ingin Allah s.w.t. mengampunkan dosanya, maka relakan ia (kau harus ridho padanya), demi Allah s.w.t. yang jiwaku ada ditanganNya tidak akan berguna sembahyang, sedekahnya selama engkau murka kepadanya.” Lalu ibu Alqomah mengangkat kedua tangan dan berkata: “Ya Rasulullah, saya mempersaksikan kepada Allah s.w.t. di langit dan kau ya Rasulullah, dan siapa yang hadir ditempat ini bahwa saya telah ridho kepadanya.”

Maka langsung Rasulullah s.a.w. menyuruh Bilal pergi melihat hal keadaan Alqomah, apakah sudah mengucap Laa ilaha illallah atau tidak, kuatir kalau-kalau ibu Alqomah mengucapkan itu hanya kerana malu pada Rasulullah s.a.w. dan tidak pada hatinya. Apabila Bilal sampai di pintu rumah Alqomah tiba-tiba terdengar  suara Alqomah membaca Laa ilaha illallah. Lalu Bilal masuk dan berkata: “Hai orang-orang, sesungguhnya murka ibu Alqomah itu yang menutup lidahnya untuk mengucap dua kalimah syahadah dan ridhonya kini melepaskan lidahnya, maka matilah Alqomah pada hari ini.” Maka datanglah Rasulullah s.a.w. dan menyuruh supaya segera dimandikan dan dikafankan, lalu disembahyangkan oleh Rasulullah s.a.w. Dan sesudah dikuburkan Rasulullah s.a.w. berdiri di atas tepi kubur sambil berkata: “Hai sahabat Muhajir dan Anshar, siapa yang mengutamakan isterinya daripada ibunya maka ia terkena kutukan (laknat) Allah s.w.t. dan tidak diterima daripadanya ibadat fardhu dan sunatnya.”

Ibu Abbas r.a. ketika mengertikan ayat (Yang berbunyi): Wa qodho rabbuka alla ta buda illa iyyaahu, wabil walidaini ihsana, imma yablughanna indakal kibara ahaduhuma au kilahuma fala taqul lahuma uf wala tanharhuma waqul lahuma qoulan karima. (Surah Al Isra ayat 23) (Yang bermaksud) Tuhanmu telah menyuruh supaya kamu jangan menyembah (mengesakan) selain padaNya. Dan terhadap kedua ibu bapa harus berbakti (taat dan baik) apabila telah tua salah satunya atau keduanya disisimu, maka jangan menunjukkan sikap jemu atau berkata: Cih, kepada keduanya, umpama jika kau samapi membuang kencing atau najis ibu atau bapa, maka jangan kau tutup hidungmu dan jangan muram mukamu sebab keduanya telah mengerjakan semua itu di masa kecilmu, dan jangan membentak keduanya dan berkatalah dengan lemah lembut, sopan santun, ramah tamah dan hormat.

Ibu Abbas r.a. ketika mengartikan ayat (Yang berbunyi): Wakh fidh lahuma janahadzdzulli minarrahmati, waqul Robbir hamhuma kama robbayani shorghira. (Surah Al Isra ayat 24) (Yang bermaksud) Dan rendahkan dirimu kepada keduanya serendah-rendahnya dan doakan keduanya: “Ya Tuhan, Kasihanilah kedua ibu bapaku sebagaimana keduanya telah memeliharaku dimasa kecil.

Mengenai kewajiban terhadap keduanya dimasa hidup hingga mati, dengan selalu mendoakan untuk keduanya sesudah matinya. Seorang ulama tabi’in berkata: “Siapa yang mendoakan kedua ibu bapanya tiap hari lima kali berarti telah menunaikan kewajipannya terhadap kedua ibu bapanya” Sebab Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “An usy kurli wali walidaika, ilayyal mashir. (Yang bermaksud): “Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapamu, kepadaKu kau akan kembali.

Bersyukur kepada Allah s.w.t. dan mengerjakan sembahyang lima waktu tiap hari, maka syukur terhadap ibu bapak juga harus lima kali tiap hari. Firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi): ” Robbukum a’lamu bima fi nufusikum in takunu shalihina fa innahu kana lil awwabina ghafura. (Yang bermaksud): “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang di dalam hatimu, jika kamu benar-benar baik (solih) maka sesungguhnya Tuhan itu terhadap orang yang salah lalu kembali taubat, ia maha pengampun. (Surah Ali-Isra ayat 25)

Hak yang harus dilaksanakan oleh anak terhadap ibu dan ayah ada sepuluh yaitu:

* Jika orang tua berhajat kepada makan harus diberi makan
* Jika berhajat pada pakaian harus diberi pakaian. Rasulullah s.a.w. ketika menerangkan ayat (Yang berbunyi): “Wa sha hib huma fiddunnya ma’rufa. (Yang bermaksud): “Bantulah kedua orang tua didunia dengan baik, yakni supaya diberi makan jika lapar dan pakaian jika tidak berpakaian.
* Jika berhajat bantuan harus dibantu
* Menyambut panggilannya
* Mentaati semua perintahnya asalkan tidak menyuruh berbuat maksiat dan ghibah (Kasari orang)
* Jika berbicara kepada keduanya harus lunak, lemah lembut dan sopan
* Tidak boleh memanggil nama kecilnya (Jambal/ gelaran)
* Jika berjalan harus dibelakangnya
* Suka untuk orang tuanya apa yang ia suka bagi dirinya sendiri, dan membenci bagi keduanya apa yang tidak suka bagi dirinya sendiri
* Mendoakan keduanya supaya mendapat pengampunan Allah s.w.t. dan rahmatNya Sebagaimana doa Nabi Nuh a.s. dan Nabi Ibrahim a.s. (Yang berbunyi): “Robbigh fir li waliwalidayya robbanagh fir li waliwalidayya wa lil muminin wal mu’minati yauma yaqumul hisab. (Yang bermaksud): “Ya Tuhan kami, ampunkan kami dan kedua ibu bapa kami dan semua kaum muslimin pada hari perhintungan hisab/hari kiamat.

Seorang sahabat berkata: “Tidak suka mendoakan kedua orang tua itu mungkin menyebabkan kesulitan penghidupan anak.” “Dan apakah mungkin memuaskan orang tua yang telah mati?” beliau ditanya. Jawabnya: ” Ya, dengan tiga macam iaitu:

* Dia sendiri menjadi orang soleh sebab menyenangkan kedua orang tuanya
* Menghubungi keluarga dan sahabat-sahabat kedua orang tuanya
* Membaca istighfar dan mendoakan serta bersedekah untuk kedua orang tuanya itu.

Al-Ala’ bin Abdirrahman dari ayahnya dari Abuhurairah r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: ” Jika mati anak Adam putus (terhenti) semua amal perbuatan (kegiatannya), kecuali tiga macam yaitu:

* Sedekah jariah yang berjalan terus (wakaf-wakarnya)
* Ilmu yang berguna (yang diajarkan sehingga orang-orang melakukan ajarannya)
* Anak yang soleh yang selalu mendoakan pengampunan untuknya

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: ” Jangan memutus hubungan pada orang yang dahulu kawan baik pada orang tuamu, niscaya akan padam nur cahayamu.” Seorang dari suku Bani Saliman datang kepada Rasulullah s.a.w. dan bertanya: “Kedua orang tuaku telah mati, apakah ada jalan untuk berbakti pada keduanya sesudah mati itu?” Jawab Nabi muhammad s.a.w.: “Ya, membaca istighfar untuk keduanya dan melaksanakan wasiat keduanya dan menghormati sahabat-sahabat keduanya dan menghubungi keluarga dari keduanya.”

Source : tanbihul_ghafilin
Shared By Catatan-Catatan Islami Pages

Satu Tanggapan

  1. kalo semua amal dan ibadah si anak tidak tidak berlaku karena murka dari orang tuanya, lalu bagaimana hukumnya orang tua yang memurkai anak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: