Bisikan atau Batu ?

Seorang eksekutif muda yang sukses mengendarai Mobil Jaguar barunya dengan cepat, melewati jalan-jalan di lingkungannya.

Ia melihat anak-anak berlarian kencang, muncul dan hilang di antara mobil-mobil yang diparkir, ia mengurangi laju mobilnya karena mengira melihat sesuatu.

Selagi mobilnya lewat, tidak ada anak-anak yang muncul, tapi sebaliknya, batu bata melayang menghantam pintu mobilnya. Ia segera menginjak rem hingga mobilnya berputar, lalu memacu mobilnya ke tempat datangnya batu.
Ia melesat keluar dari mobilnya mencengkram anak yang berdiri di sana lalu memojokkannya ke mobil yang sedang di parkir sambil berteriak,

“Apa yang telah kau lakukan?”

Dengan kemarahan yang meluap-luap ia berkata,

“Itu mobil baru. Batu yang kau lemparkan akan menyebabkanku mengeluarkan biaya besar. Mengapa kau berbuat seperti ini ?”

“Tolong tuan, tolong….., aku tidak tahu lagi harus berbuat apa,” kata si anak dengan nada memohon.

“Aku melemparkan bata karena tidak ada mobil yang mau berhenti.”

Air mata si anak mengalir di pipi selagi ia menunjuk ke suatu arah.

”Itu saudaraku tuan” katanya,

”Ketika sedang meluncur di pinggir jalan, tiba-tiba ia terjatuh dari kursi rodanya. Aku tidak kuat mengangkatnya.”

Dengan terisak-isak ia memohon kepada si eksekutif muda,

”Tolong tuan, maukah engkau membantuku mengangkat dan mendudukannya kembali ke kursi rodanya. Ia terluka. Ia terlalu berat untukku?”

Tergerak oleh kata-kata anak itu, si eksekutif lalu menelan kemarahan yang telah menggumpal di dadanya. Ia lalu mengangkat anak muda yang terjatuh itu kembali ke atas kursi rodanya.

Ia mengeluarkan sapu tangan untuk menghapus lukanya dan memastikan bahwa tidak ada hal lain yang mengkhawatirkan.

”Terima kasih tuan. Semoga Alloh memberkatimu,” kata si anak merasa berterima kasih.

Si eksekutif mengamati anak itu mendorong saudaranya pulang ke rumah.

Ia kemudian berjalan kembali ke mobil jaguarnya. Jalannya pelan dan terasa lama.
Ia tidak memperbaiki pintu mobilnya.
Ia membiarkan penyok di pintu sebagai peringatan agar tidak lagi menjalani kehidupan ini secara cepat sehingga orang lain harus melemparkan batu untuk mendapatkan perhatiannya.

Saudaraku…..
Alloh SWT berbisik di jiwamu dan berbicara di hatimu. Kadang-kadang kau tidak memiliki waktu untuk mendengarkan-Nya, sehingga Dia harus melemparmu dengan batu.Terserah kepadamu : Kau mau mendengarkan bisikan itu atau menunggu batu bata melayang ke arahmu

Semoga renungan ini bermanfaat bagi kita

Silahkan SHARE ke rekan anda jika menurut anda note ini bermanfaat

Sumber Buku : Hikmah dari Seberang oleh Drs. Abu Abdillah Al-Husainy
Shared By Catatan Catatan Islami Pages

2 Tanggapan

  1. nice posting..2 jempol…

  2. Kita hidup tidak bs tanpa orang lain, dari situ banyak mengerti, belajar dan bahkan berbenah. . .
    nice. . .full

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: